Memasuki Kemarau, KAI Daop 7 Madiun Imbau Petani Tak Bakar Jerami Dekat Jalur Kereta Api
Waktu:2026-07-30 08:26:30 Sumber:PendidikanDibaca (143)

Dia mengungkapkan, dalam satu bulan terakhir, setidaknya telah terjadi dua kali pemberhentian darurat perjalanan kereta api di wilayah Daop 7 Madiun karena ada pembakaran jerami di area persawahan di dekat jalur kereta api.
“Yang terakhir di dekat (Stasiun) Walikukun, Ngawi, beberapa hari lalu. Karena ada pembakaran jerami di sawah yang merembet mendekati jalur kereta api,” kata Tohari merujuk pada pemberhentian luar biasa Km 216+500 petak jalan antara Stasiun Walikukun-Stasiun Kedungbanteng pada Senin, 13 Juli 2026.
Menurut Tohari, melintasi titik api merupakan hal yang berbahaya bagi perjalanan kereta api karena dapat menyulut kebakaran terutama di area lokomotif, di mana terdapat bahan bakar minyak.
“Sekalipun kereta melewati api dalam kecepatan tinggi, tetap saja sangat berisiko. Kita tidak bisa mengambil risiko yang membahayakan banyak orang terutama penumpang,” tegasnya.
Dia mengatakan, risiko semakin tinggi jika yang melintas adalah kereta api barang yang membawa muatan logistik atau bahan yang mudah terbakar termasuk tanki bahan bakar minyak (BBM).
Tohari menambahkan bahwa kejadian pemberhentian luar biasa tidak hanya terjadi di wilayah Daop 7 Madiun, tetapi juga di wilayah operasi PT KAI lainnya.
“Kejadian pembakaran jerami di area persawahan yang dekat dengan jalur kereta api selama musim kemarau ini sudah berulang kali terjadi. Tidak hanya di Daop 7,” ujarnya.
Ketika terjadi pemberhentian luar biasa, menurut dia, maka akan berdampak pada perjalanan kereta api lainnya.
Di sisi lain, Tohari menyebut, jalur kereta api di sejumlah wilayah operasi termasuk Daop 7 Madiun, paling banyak melintasi area persawahan.
Situasi ini membutuhkan kewaspadaan khusus karena tidak hanya terdapat jerami dan rumput kering tetapi juga adanya faktor angin kencang yang dapat memicu titik api pembakaran jerami di persawahan merembet cepat ke jalur kereta api.
Untuk itu, Tohari mengharapkan petani memastikan aktivitas pembakaran jerami di area persawahan di musim kemarau ini tidak merembet ke jalur kereta api.
“Kombinasi antara material kering dan angin kencang membuat api sekecil apa pun akan sangat cepat menjalar menuju ruang manfaat jalur kereta api,” katanya.
“Sebaiknya jika membakar jerami ditunggu sampai titik api benar-benar mati,” ujar Tohari lagi.
Lebih lanjut, dia mengatakan, PT KAI Daop 7 Madiun terus melakukan patroli rutin di sepanjang jalur rawan, menggencarkan sosialisasi langsung kepada para kelompok tani di sekitar rel, serta menyiagakan alat pemadam api ringan (APAR) di pos-pos penjagaan.
“KAI tidak akan segan mengambil langkah hukum tegas bagi siapa saja yang dengan sengaja melakukan aktivitas yang membahayakan keselamatan perjalanan kereta api,” pungkasnya.
Sebelumnya: Tarik Turis Asing, Wisata Wellness Jadi Prioritas Pariwisata Indonesia
Selanjutnya: Kapasitas Menyusut 5,3 Juta Meter Kubik, Waduk Gondang Dikeruk demi Irigasi 10.588 Hektare Sawah
Mungkin Anda suka
- Penjelasan Kortas Tipikor Terkait Kasus yang Jerat Febrie Adriansyah
- Polisi: Tak Ada Keterlibatan Pihak Lain soal Bos Perusahaan Tewas di St Regis
- Gempa M 5 Guncang Sukabumi
- 164 Siswa Disabilitas Kunjungi Istana, Seskab: Semua Anak Berhak Bermimpi
- Pengemudi Ojek Ditembak Maling Motor Saat Coba Tangkap Pelaku di Matraman Jaktim
- Mulai Hari Ini, Semua Jalur Stasiun Bogor Bisa Layani KRL 12 Gerbong
- Serangan AS ke Iran Masuki Hari ke-9, Hormuz Terus Memanas
- Resto Steak di Menteng Kebakaran
- Dulu Ambil Air Pakai Ember, Kini Petani NTT Panen Dua Kali Setahun