Mengelola Kenaikan Berat Badan akibat Efek Samping Obat Gangguan Mental
Waktu:2026-07-30 08:27:33 Sumber:KesehatanDibaca (143)

Pemantauan kesehatan fisik selama pengobatan
Penanganan pasien skizofrenia terus mengalami perkembangan. Jika selama bertahun-tahun fokus terapi lebih banyak diarahkan pada pengendalian gejala kejiwaan, kini perhatian kalangan medis semakin meluas hingga mencakup kesehatan fisik pasien, terutama dalam mengatasi obesitas.
Perubahan pendekatan tersebut didukung oleh semakin banyaknya bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa keberhasilan terapi skizofrenia tidak hanya ditentukan oleh stabilitas kondisi mental, tetapi juga kemampuan menjaga kesehatan metabolik pasien.
Perspektif tersebut diperkuat oleh hasil uji klinis acak yang dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry yang melibatkan 154 pasien berusia 18 hingga 60 tahun yang didiagnosis skizofrenia atau gangguan terkait.
Penelitian bertajuk Semaglutide Treatment of Antipsychotic-Treated Patients With Schizophrenia, Prediabetes, and Obesity: The HISTORI Randomized Clinical Trial menunjukkan bahwa intervensi menggunakan semaglutide pada pasien skizofrenia dengan prediabetes dan obesitas mampu memperbaiki kondisi metabolik tanpa ditemukan perburukan gejala kejiwaan selama masa penelitian.
Pada akhir penelitian, kelompok yang menerima semaglutide menunjukkan rata-rata penurunan berat badan sebesar 9,21 kilogram, penurunan kadar HbA1c sebesar 0,46 persen, yang menunjukkan membaiknya pengendalian gula darah, termasuk juga perbaikan profil lemak darah.
Temuan ini dinilai memberikan gambaran baru mengenai bagaimana pengelolaan kesehatan fisik dapat diintegrasikan ke dalam perawatan pasien dengan gangguan jiwa berat.
Di Indonesia, zat aktif semaglutide dipasarkan oleh Novo Nordisk melalui dua produk dengan indikasi berbeda, yakni Ozempic untuk terapi diabetes melitus tipe 2 dan Wegovy untuk manajemen berat badan sesuai indikasi yang telah disetujui. Penggunaannya merupakan obat resep yang hanya boleh dilakukan berdasarkan penilaian dan pengawasan tenaga kesehatan
Menurut para peneliti, hasil studi ini memperkuat pentingnya pendekatan multidisiplin dalam pelayanan kesehatan jiwa.
Penanganan pasien skizofrenia tidak hanya menjadi tanggung jawab psikiater, tetapi juga memerlukan keterlibatan dokter penyakit dalam atau endokrinolog, ahli gizi, perawat, psikolog, dan tenaga kesehatan lain sesuai kebutuhan.
Meski memberikan hasil yang menjanjikan, peneliti menegaskan bahwa penelitian ini memiliki batasan.
Studi hanya dilakukan pada pasien skizofrenia yang menggunakan antipsikotik generasi kedua serta mengalami prediabetes dan obesitas atau kelebihan berat badan. Oleh karena itu, hasil penelitian tidak dapat langsung diterapkan pada seluruh populasi pasien.
Sebelumnya: TransNusa Terbang dari Bali ke Waingapu dan Wakatobi
Selanjutnya: Panglima TNI Sebut Pendampingan TNI AU Sumbang 45 Persen Target Produksi Gula Nasional 2026
Mungkin Anda suka
- Hari Anak Nasional 2026, Kemensos Gelar Tebus Ijazah hingga Khitanan Massa
- Pengguna Lama iPhone Makin Setia, Sedikit yang Pindah dari Android
- Polres Jaksel Mediasi Kurir Ojol Tak Sengaja Hilangkan Paket Pelanggan
- Diduga Bakar Sampah Sembarangan, Lahan 2 Hektare di Parung Panjang Bogor Terbakar
- Polisi Bakar 22 Rakit Tambang Emas Ilegal di Kuansing Riau
- PKB Imbau Warga NU Pilih Ketum yang Mengayomi, Bukan Mengumbar Konflik
- Rebutan Air, Dua Petani di Soppeng Terlibat Duel Maut, Satu Tewas
- Napi Lapas Banyuwangi Pesan Sabu, Janjikan Rp 500.000 ke Pengantar
- Malaysia Bersiap Hadapi Super El Nino, Suhu Diperkirakan Lampaui Rekor 40,1 Derajat